AKU DAN ISTRIKU KABUR DARI PENJARA DI KAMBOJA
Namaku Dimas. Aku hanyalah seorang santri biasa di pesantren yang terpencil ini, tempat di mana ilmu agama diajarkan dengan penuh kesungguhan. Setiap hari, suara adzan menggema, hafalan Al-Qur'an mengalun, dan kami belajar bagaimana menjaga iman dari godaan dunia. Tapi di antara semua itu, ada satu sosok yang kami anggap sebagai teladan: Kiyai Ridwan. Beliau bukan hanya pemimpin pesantren, tapi juga seorang waliyullah yang disegani. Dakwahnya selalu menggebu-gebu, penuh api keimanan yang membakar hati setiap pendengar. Aku masih ingat betul malam itu, di majelis taklim setelah salat Isya. Suara Kiyai Ridwan menggelegar di ruangan penuh santri yang duduk bersila dengan khusyuk. “Wahai para santri! Zina adalah dosa besar yang membakar umat ini! Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an, ‘Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.’ (QS. Al-Isra: 32). Barang siapa yang berani melanggar, ia telah membuka pintu nerak...